Luka dan Pembalasan

July 12th, 2007 by fellowshiparea

Setiap dari kita pasti pernah terluka. Ketidaksempurnaan orang-orang yang ada di sekitar kita sangat berpotensi menorehkan luka yang dalam di hati kita. Mereka yang kita sayangi, mereka yang kita percayai, mereka yang kita banggakan. Merekalah yang paling dapat menyakiti kita. Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, kitapun terluka.

Lama kelamaan, tanpa kita sadari, luka itu membentuk kepribadian kita. Seberapa besarkah dampak luka hati kamu bagi pembentukan karakter kamu hari ini? Apakah diri kamu hari ini adalah hasil dari luka-luka masa lalu yang coba kamu hindari, lupakan, atau bahkan kamu tuntut?

Luka-luka yang mendalam seakan menyisakan satu pilihan, yaitu : Pembalasan. Pembalasan sepertinya merupakan satu-satunya harapan untuk mengobati luka yang dalam, dan memberi kita ketenangan.

Tetapi pikirkanlah ini: Tidakkah dengan membalas kita sedang mengatakan kepada Tuhan bahwa kita lebih “pintar” dari-Nya? Tidakkah dengan melakukan pembalasan menurut cara kita, kita sedang mengatakan pada Tuhan bahwa kita lebih bisa mengatasi masalah kita lebih dari pada-Nya?

Pikirkanlah! Adakah luka-luka lama yang belum kamu balut dengan kasih Tuhan? Apakah luka-luka yang menorah hati kamu telah membentuk kpribadian kamu hari ini? Apakah kamu sedang memilih untuk menuntut balasan dengan cara kamu sendiri?

      Biarlah kamu dapat memilih untuk mengampuni mereka yang telah melukai kamu hari ini. Biarlah kamu mempercayakan Tuhan untuk menangani mereka yang telah melukai kamu, dan bukan dengan pembalasan dengan cara kamu sendiri.

The Purpose Driven Life

May 11th, 2007 by fellowshiparea

Buat temen2 yang sering ikut komsel, SOM, PA, KTB dan sejenisnya, buku ini nggak begitu asing. Buku karangan Rick Warren ini bagus banget. Isinya menjelaskan kenapa sih kita ada di dunia, tujuan hidup kita, penyembahan yang benar, pelayanan, persekutuan sejati, dll. Isinya sangat memberi inspirasi dan bisa mengingatkan lagi visi dan misi hidup kita sebagai anak2 Tuhan. Bukunya berisi renungan untuk 40 hari dan membacanya sebaiknya satu hari satu bab. Di bagian belakang buku ini terdapat semacam indeks yang menunjukkan ayat2 referensi yang berkaitan dengan bab2 yang kita baca. Buku ini biasa kami dipakai untuk Cell Group Ministry (CGM) di Persekutuan Mahasiswa. Aku pertama baca buku ini saat dipinjemin seorang teman. Tapi karena 40 hari itu waktu yang lama, aku nggak enak kalo harus pinjam selama itu. Jadinya aku beli lewat seorang teman yang kebetulan gerejanya sedang ada promosi buku ini. Jadinya aku beli dan dapat diskon. Lumayan lah… Buku ini cukup menjawab berbagai pertanyaan dan pergumulan2ku mengenai kehidupan kekristenan.

Buat teman2 yang pengen menemukan visi hidup yang benar dalam Tuhan, buku ini mungkin cocok dan bisa menjawab pertanyaan2mu. Tapi tentunya jawaban yang paling valid atas pergumulan hidupmu berasal dari Tuhan sendiri. Selamat membaca dan selamat menemukan visi hidupmu di dalam Tuhan. God bless…

Merokok Dosa Nggak?

May 2nd, 2007 by fellowshiparea

Buat anda2 yang merokok mohon maaf. Nggak ada maksud untuk mendeskreditkan anda. Piss….

Merokok atau nggak itu pilihan. Yang pasti udah tau ruginya kan? Di liat dari sudut manapun merokok nggak ada untungnya. Dari segi ekonomi? Merokok tu buang2 uang. Sama aja kayak kita bakar duit. Dari segi kesehatan? Anak kecil aja tau kalo merokok ga baek buat kesehatan. Trus orang yang ngerokok nafasnya ga sedap, giginya juga ga sedap buat diliat. He..he… piss…. Jadinya agak mengganggu komunikasi saat harus ngobrol sama orang lain. Dari segi iman atau rohani? Ni dia nih, check it out! (Sori kalo agak ekstrem)

Alkitab tidak pernah secara langsung menyinggung tentang merokok. Namun demikian ada beberapa prinsip yang dapat diterapkan pada merokok. Pertama, Alkitab memerintahkan kita untuk tidak membiarkan tubuh kita “diperhamba” oleh apapun. 1 Korintus 6:12 menyatakan, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun.” Tidak dapat disangkal merokok dapat menyebabkan kecanduan yang kuat. Dalam pasal yang sama, belakangan kita diberitahukan bahwa, “ Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, —dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1 Korintus 6:19-20). Tidak dapat disangkal merokok sangat merusak kesehatan. Merokok telah dibuktikan merusak paru-paru dan juga sering merusak jantung.

Dapatkah merokok dianggap “menguntungkan” (1 Korintus 6:12)? Dapatkah dikatakan bahwa merokok benar-benar “memuliakan Allah dengan tubuhmu” (1 Korintus 6:20)? Dapatkah seseorang dengan jujur merokok “untuk memuliakan Allah?” (1 Korintus 10:31)? Kita percaya bahwa jawaban dari ketiga pertanyaan itu adalah “tidak.” Karena itu, kita percaya bahwa merokok adalah dosa, dan karenanya tidak sepatutnya dilakukan oleh para pengikut Yesus Kristus.

Sebagian orang menolak pandangan ini dengan menunjuk pada fakta bahwa banyak orang makan makanan yang tidak sehat yang sama saja akibat buruknya terhadap tubuh kita. Contohnya, banyak orang yang kecanduan kafein sedemikian rupa sehingga mereka tidak dapat berfungsi sebelum minum kopi terlebih dahulu di pagi hari. Walaupun ini benar adanya, bagaimana hal ini membuat merokok menjadi sesuatu yang benar? Kita percaya bahwa orang-orang Kristen harus menghindari kerakusan dan makan makanan yang tidak sehat secara berlebihan. Betul, orang-orang Kristen sering kali bersikap munafik dengan mencela dosa yang satu dan mengizinkan dosa yang lainnya … namun sekali lagi, bagaimana hal ini membuat merokok sebagai sesuatu yang memuliakan Tuhan?

Alasan lain yang melawan pandangan sedemikian terhadap merokok adalah fakta bahwa banyak orang-orang yang rohani yang adalah perokok, seperti pengkhotbah berkebangsaan Inggris yang ternama, C.H. Spurgeon. Sekali lagi alasan seperti ini tidak dapat diterima. Kami percaya bahwa dengan merokok Spurgeon berbuat salah. Apakah dia adalah orang rohani dan pengajar Firman Tuhan yang fantastik? Sama sekali tidak diragukan! Apakah itu berarti semua kebiasaannya memuliakan Tuhan? Tidak.

Dengan mengatakan bahwa merokok itu dosa, kita tidak mengatakan bahwa semua perokok tidak diselamatkan. Banyak orang yang percaya pada Yesus Kristus yang merokok. Merokok tidak menghalangi seseorang untuk diselamatkan, dan juga tidak membuat orang kehilangan keselamatan. Merokok tidak membuat orang tidak dapat diampuni, baik untuk orang menjadi Kristen, maupun untuk orang Kristen yang bersedia mengakui dosanya kepada Allah (1 Yohanes 1:9). Pada saat yang sama, dengan yakin kami percaya bahwa merokok adalah dosa yang harus ditinggalkan dan dengan pertolongan Tuhan, diatasi.

Fokus

April 30th, 2007 by fellowshiparea

Sudah beberapa minggu ini tiap kali melihat catalogue penawaran dari bank yang mengeluarkan kartu kredit, mata saya ini selalu berlari ke bagian assesoris wanita dan terus terang saja gambar jam tangan wanita ekslusive pada lembaran catalogue itu sangat menarik perhatian saya. “Aduh…. bagus bener, talinya terbuat dari kulit asli warna hitam lagi, pas dengan yang aku mau… “ kata saya di dalam hati. Melihat harganya yang mahal tidak mengurangi niat untuk membelinya. Apalagi pembayarannya bisa diangsur beberapa kali, sungguh sangat menarik hati . Bukan sekali dua kali saya melihat catalogue tersebut, tiap kali melihatnya, rasa tertarik untuk memiliki jam tangan tersebut semakin bertambah. “ Sudah…. beli saja, ngapain sih pake mikir segala, kan bisa diangsur. Lagian punya uang kalau nggak dipake sendiri, mau disimpan terus? “ begitu kata hati saya berulang-ulang.

Tahukah saudara, apa yang membuat saya terus memikirkan jam tangan itu? Coba pikirkan baik-baik, baru menjawab. Sudah ketemu jawabannya ? hehehe….

Mari kita simak ayat firman Tuhan dari Amsal 4 :23 “ Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. “ Dari ayat tersebut kita mengetahui bahwa hati kita harus kita jaga, keadaannya tergantung dengan diri kita, bukan Tuhan yang menentukan. Kitalah yang memilih bagaimana dan apa yang ada di dalam hati. Sejak pertama kali saya melihat gambar jam tangan wanita dalam catalogue , saya sudah memutuskan untuk menaruh hati saya pada gambar jam tangan tersebut dan saya memilih untuk menyukainya. Begitu menyukai barang tersebut, membuat mata hati saya buta. Saya pikir saya harus memiliki jam tangan tersebut. Padahal sesungguhnya saya tidak memerlukannya karena jam di pergelangan tangan saya saat ini pun masih bagus dan enak dipakai, dengan kata lain, jam tangan tersebut masih berfungsi dengan baik sebagai penunjuk waktu.

Begitu mudahnya hati kita tertarik kepada hal-hal yang indah dipandang mata. Fungsi utama dari benda tersebut menjadi sama sekali tidak penting. Penampilan dan kepuasan diri sendirilah yang menjadi tujuan kita. Kita kehilangan fokus. Dalam segala hal kita akan selalu dihadapkan pada pilihan dan sangat sering kita salah memilih karena kita telah kehilangan fokus . Seorang hamba Tuhan pernah mengatakan seperti ini : “ Kalau ingin menjadi orang yang berhasil, anda harus fokus dalam bekerja. Seperti kaca yang ditaruh diatas kertas dan dipantulkan menghadap sinar matahari apabila difokuskan maka akan menimbulkan titik api. “ Jelas bukan akibat yang dihasilkan oleh tindakan yang fokus ?

Sangat penting bagi kita untuk memilih hal-hal apa yang akan dimasukkan ke dalam hati melalui telinga, mata dan mulut kita. Perbanyak waktu persekutuan dengan-Nya, baca dan renungkan firman-Nya, dan lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Jika yang kita ijinkan masuk ke dalam hati kita adalah hal-hal yang berasal dari-Nya, maka apapun yang dikeluarkan melalui sikap, perkataan dan tingkah laku kita akan memancarkan kehidupan.

Cara Tuhan menjawab doa kita

April 30th, 2007 by fellowshiparea

Ada seorang tentara Amerika yang melayani Tuhan berdiri di pinggir jalan untuk mencari tumpangan ke kota Chicago di Illinois. Sebenarnya perbuatan "hitchhiking" ini melanggar hukum dan sangat berbahaya, tetapi tidak ada alternatif lain bagi tentara ini kecuali melakukan hal itu.

Tiba-tiba sebuah limousine warna hitam menghampiri tentara itu dan memberikan tumpangan.

Tentara dan pemilik limousine tersebut saling berkenalan (siapa namanya, asalnya dari mana, kerja di mana, dsb) dan tiba-tiba Roh Kudus membisikkan dalam hati tentara ini untuk membagikan berita mengenai keselamatan di alam Kristus kepada pemilik limousine ini. Tentara itu menolak bisikan Roh tersebut, karena pikirnya, masakan saya habis melanggar hukum tiba2 memberitakan Kristus, dan terlebih lagi karena tentara ini TAKUT dipukuli pemilik limousine ini dan diturunkan di tengah jalan.

Tapi bisikan Roh Kudus tersebut sedemikian kuat sehingga tentara ini tidak tahan lagi dan berkata kepada pemilik limousine ini, "Pak… boleh nggak saya menanyakan masalah pribadi?"
"Oh, boleh saja," jawab Bapak ini, "Pertanyaan apa?" "Kalau misalnya Bapak meninggal dunia besok pagi, Bapak kira-kira akan masuk surga atau masuk neraka?" "Kamu tahu nggak?" jawab Bapak ini, "Sesaat sebelum saya memberimu tumpangan, saya juga tiba-tiba memikirkan hal itu, dan saya pikir kalau saya mati besok, saya akan masuk neraka." "Bapak mau nggak saya beritahu caranya masuk surga?" tanya tentara ini. "Oh, tentu saja mau," jawab Bapak itu.

Tentara itu lalu mulai membagikan berita keselamatan mengenai Yesus Kristus dan menantang Bapak ini untuk menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya. Bapak itu bersedia menerima Yesus, dan ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan mengajak tentara itu membimbing dia berdoa untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya. Air mata meleleh di pipi Bapak ini. Ia mengatakan, "kamu tahu nggak? Malam ini kamu sudah melakukan hal yang sangat besar bagi hidup saya, saya nggak akan pernah melupakan apa yang kamu sudah lakukan bagi hidup saya Chicago, ketika tentara ini mohon diri (turun dari mobil), Bapak itu memberikan satu kartu nama sambil berkata, "Ketahuilah… hari ini anda sudah melakukan hal yang sangat penting dalam hidup saya. Kapan-kapan kalau main ke Chicago hubungilah saya di alamat ini." dan tak lama kemudian mereka berpisah.

Waktu lima tahun sudah berlalu dan tentara ini kemudian kembali berkunjung ke kota Chicago, dan ia ingat akan kartu nama yang diberikan oleh Bapak pemilik limousine ini kepadanya. Tentara ini ingin tahu kabar mengenai Bapak tersebut, dan ia datang ke alamat yang tertera di kartu nama tersebut, dan ia sampai ke sebuah gedung pencakar langit kantor pusat sebuah perusahaan raksasa di Amerika Serikat. Ia memberikan kartu tersebut kepada satpam, dan satpam itu sangat terkejut dan bertanya, "Dari mana kamu dapatkan kartu ini?" Tentara itu menjawab, "Yang empunya kartu itu sendiri yang memberikannya kepada saya." sehingga satpam itu menjawab, "Kamu naik ke lantai paling atas, sampai sana belok kiri dan kamu tanya pada sekretaris yang ada di sana."

Tentara itu naik ke lantai paling atas dan memberikan kartu nama itu kepada sekretaris yang ada di sana yang juga sangat terkejut, "Dari mana anda dapatkan kartu ini?"
Jawab tentara itu, "Wah… panjang ceritanya… tapi beliau sendiri yang memberikannya kepada saya." "Bapak ini sekarang tidak ada di sini…apakah anda ingin bertemu dengan istrinya?" "Boleh", jawab tentara itu, dan ia dipertemukan dengan istri Bapak itu yang adalah Presiden Direktur dari perusahaan raksasa tersebut. "Dari mana kamu peroleh kartu ini?" tanya ibu (istri) tersebut.

Tentara itu menceriterakan ihwal pertemuannya dengan Bapak itu dan bagaimana Bapak itu menerima Yesus sebagai penyelamatnya. Mendengar itu semua meledaklah tangis Ibu tersebut. Ia menceriterakan bahwa tak lama sesudah menurunkan tentara itu, limousine tersebut memperoleh kecelakaan yang sangat fatal yang menewaskan Bapak tersebut. Ibu itu mengatakan bahwa bertahun-tahun ia berdoa supaya suaminya diselamatkan, dan ia mengira bahwa suaminya meninggal tanpa diselamatkan, sehingga ia begitu marah kepada Tuhan dan meninggalkan gereja dan pelayanannya.

Apa yang dilakukan oleh tentara itu adalah hal yang paling penting yang pernah terjadi dalam hidup Bapak itu, tetapi hal yang tidak kalah penting lagi ialah CARA Allah mengabulkan doa ibu itu.

Ibu itu sadar bahwa Allah BEKERJA di dalam doa2 yang disampaikannya TANPA memberitahu Ibu tersebut bahwa doanya TELAH DIKABULKAN TUHAN.

Dari kisah ini kita bisa belajar:

HARUSKAH Tuhan itu memberitahu kita apabila Ia bekerja dalam rangka mengabulkan doa-doa kita?

TIDAKKAH mata iman kita itu bisa melihat bahwa di balik doa
yang SEPERTINYA tidak dikabulkan oleh Tuhan itu TERNYATA Tuhan bekerja untuk mengabulkan doa2 kita?
Sedemikian cepatnyakah kita MENUDUH bahwa Tuhan itu tidak setia, Tuhan itu berbohong, Tuhan itu tidak menjawab doa-doa kita, dan Tuhan itu tidak berkenan atas doa-doa kita?

HARUSKAH Allah itu mengabulkan doa kita dengan cara yang SESUAI dengan cara yang kita sodorkan kepada Tuhan? Apakah kita sudah sedemikian "dijangkiti" oleh "doa instan" yang "harus dikabulkan hari ini juga","harus dikabulkan tahun ini juga" dan lain sebagainya?

Allah Melupakan Dosa Kita

April 30th, 2007 by fellowshiparea

Ada sebuah cerita tentang seorang pendeta yang pada masa mudanya telah melakukan dosa yang menurutnya sangat hina. Dia telah memohon ampun pada Allah, namun sepanjang hidupnya dia belum merasa tenang. Ia terus membawa beban dosa ini. Ia tidak benar-benar yakin bahwa Allah telah mengampuni dosanya.

Suatu ketika ia mendengar bahwa salah satu jemaatnya, seorang wanita tua, mempunyai karunia penglihatan dan dapat berbicara dengan Tuhan. Ia mengunjungi wanita ini dan bercakap-cakap dengannya. Di akhir kunjungannya, sang pendeta bertanya,

"Apakah Anda sering mendapat penglihatan?"

"Ya, Pak pendeta," jawab wanita tua ini.

"Apakah Anda juga dapat berbicara dengan Tuhan?"

"Ya," jawabnya lagi.

"Begini, Bu.. pada saat nanti Anda sedang berbicara dengan Tuhan, maukah Anda menolong saya menanyakan sesuatu kepada Tuhan?"

Wanita ini terkejut karena sebelumnya tidak ada yang meminta hal ini kepadanya. "Ya, dengan senang hati dan apakah yang ingin Anda tanyakan pada-Nya?"

"Tolong tanyakan dosa apakah yang telah saya lakukan pada waktu saya masih muda."

Wanita ini menyetujui. Selang beberapa waktu kemudian, sang pendeta mengunjungi wanita ini lagi. Setelah meminum tehnya, ia bertanya dengan hati-hati dan sedikit takut, "Apakah Anda sudah mendapat penglihatan akhir-akhir ini?"

"Ya, Pak pendeta."

"Apakah Anda juga sudah bercakap-cakap dengan Tuhan?"

"Ya…"

"Lalu, sudahkah Anda menanyakan dosa apa yang sudah saya perbuat di masa muda saya?"

"Saya sudah menanyakannnya."

Pendeta ini terdiam beberapa saat lalu bertanya lagi, "Tuhan menjawab apa?"

Sambil memandang sang pendeta, wanita ini menjawab dengan lembut, "Tuhan berkata bahwa Ia tidak mengingatnya lagi."

Saudara, Allah tidak hanya mengampuni setiap dosa dan pelanggaran kita. Tapi Dia juga memilih untuk melupakannya. Semua dosa kita sudah dibuang ke tubir laut yang paling dalam. Jangan lagi kita mau dilumpuhkan oleh dosa masa lalu kita.

Ini adalah kenyataan yang terindah yaitu bahwa Allah telah benar-benar mengampuni kita. Kitapun harus mau dan sanggup untuk mengampuni sesama. Dan bukan hanya mengampuni tetapi juga kita harus mampu melupakan seperti yang sudah Allah lakukan untuk kita. Gampang-gampang susah memang. Dengan kemampuan sendiri nggak akan bisa. Dengan kuasa Tuhan? Pasti bisa. Selamat berjuang…

Ngak Punya Jawaban…

April 12th, 2007 by fellowshiparea

Suatu hari seorang teman sharing ke aku tentang masalah pribadinya. Dia sangat kecewa terhadap orang tuanya yang akan bercerai. dia nggak tau mesti ngapain lagi untuk mencegah perceraian itu terjadi. Sebagai orang yang belum pernah mengalami aku juga nggak tau  mesti ngapain. Akhirnya aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik. Tapi lama-lama aku juga khawatir kalau-kalau dia cari pelampiasan ke hal-hal yang nggak baik. Aku nggak mau dia jadi anak yang broken home. Memang nggak semudah itu buat dia ketika aku bilang, "Sabar..,tabah..". Jujur, aku nggak punya jawaban atas semua pergumulannya. Aku cuma bisa menguatkankan dan berdoa buat dia. Karena aku percaya akan kuasa doa. Aku percaya doa mampu mengubah sesuatu ketika semua tindakan tidak dapat memberi solusi.

Setiap kita punya pergumulan sendiri-sendiri. Aku percaya setiap kita punya kapasitasnya masing-masing dalam menanggung beban dan pergumulan. Aku belum tentu dapat menanggung bebanmu. Kita sering nggak punya jawaban atas setiap hal yang terjadi. Di saat seperti ini kita sering bingung. Tapi di sinilah kita ditantang untuk tetap percaya. Ingat, kita punya iman yang membuat kita mampu melihat pelangi di tengah badai.

Kita juga sering ikut terbeban menolong pergumulan orang lain. Itu baik. Tapi ingat, orang yang kita tolong itu punya kapasitas dan pilihannya sendiri. Jadi ketika apa yang kita harapkan atas hidup orang itu tidak tercapai, kita jangan sampai merasa bersalah karena merasa tidak mampu menolongnya. Jangan sampai kita rapuh ketika akan menolong orang lain. Kita harus kuat dulu saat akan menolong orang. Bukan berarti yang kuat saja yang harus menolong. Semua kita wajib, tapi ada batasan dan kapasitasnya. Perlu diingat juga kalau Tuhan punya rencana sendiri atas hidup orang tersebut. Kita nggak tau kan rencana Tuhan atas hidup setiap orang?  Jadi saat kita nggak mampu menolong orang tersebut, jangan dulu merasa bersalah yang bisa membuat kita sedemikian down-nya yang membuat hidup kita juga jadi berantakan. Kita merasa ini salah kita yang nggak mampu menolongnya. Percaya aja Tuhan bekerja atas hidupnya. Dalam menolong ada bagian kita dan ada bagian Tuhan. Jadi jangan overlap bagiannya Tuhan ya…

Ada banyak pergumulan di hidup kita, misalnya study, skripsi yang nggak kelar2, pekerjaan, pasangan hidup, keluarga, relasi dengan orang lain, dll yang mungkin saja kita belum menemukan jawaban2nya. Percaya aja kalau Tuhan akan cukupkan satu per satu. Segala sesuatu akan ada waktunya. Sebagai anak Tuhan, kita memang hanya bisa berserah diri (tentunya juga berusaha sesuai kehendakNya). Berserah diri memang bukan cara terbaik untuk hidup. Tapi berserah diri adalah satu2nya cara untuk hidup. Tetap kerjakan keselamatan yang menjadi bagianmu. Jangan campuri bagiannya Tuhan. Tetap semangat…. God bless u all.

Sakit Hati (part II)

February 27th, 2007 by fellowshiparea

Selamat datang buat kamu-kamu yang baca blog ini. Aku mau share lagi nih tentang sakit hati, benci, marah dan sejenisnya. Di share-ku yang pertama tentang sakit hati (Sakit Hati? It’s a choice), aku bilang bahwa kepahitan itu harus dibereskan, baik sama Tuhan ataupun sesama. Kenapa? Orang yang sakit hati (terluka) cenderung akan menyakiti orang lain atau istilah kerennya hurt people hurting people. Mereka akan bertindak sesuai sakit yang mereka rasakan. Bayangkan jika kita seorang yang ambil bagian dalam pelayanan di gereja atau persekutuan misalnya, apakah pelayanan kita bisa jadi berkat? Sekecil apapun masalah sakit hati harus segera dibereskan (inner healing). Jika tidak, ada satu oknum yang akan ambil bagian dan masuk ke dalam celah ini. Yup siapa lagi kalo bukan iblis. Kita semua tahu iblis sangat licik. Dia akan sedemikian rupa memainkan memori kita sehingga kita akan terus diingatkan akan hal-hal yang pernah menyakiti kita. Banyak yang ngganggap remeh masalah sakit hati ini. Akibatnya secara tidak sadar banyak yang mengalami kepahitan. Aku pernah ketemu sama orang yang hubungannya sama orang tuanya tidak harmonis karena sakit hati dan kecewa yang tidak dibereskan. Sehingga akhirnya jadi broken home.

Cara satu-satunya ya dipulihkan dengan cara mengampuni. Memang tidak mudah. Perlu proses yang luar biasa nggak enak dan yang terpenting minta kekuatan dari Tuhan. Karena dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu. Kita harus membuang rasa gengsi, sombong, malu. Rendahkan diri dihadapan Tuhan, sadari kalo kita tidak akan mampu kalo tanpa Tuhan. Di sini sebenarnya terjadi perubahan karakter. Kita yang dulunya emosian, suka menyimpan kesalahan orang lain, pendendam, sulit untuk mengampuni, perlahan-lahan akan diubahkan menjadi pribadi yang mengampuni. Merendahkan diri dan belajar tunduk sama Tuhan terjadi saat kita bergumul apakah kita akan membalas orang yang menyakiti kita atau mengampuninya. Saat kita memutuskan tunduk sama Tuhan, maka kita pasti bisa mengampuni. Perubahan karakter bukan berarti kita berubah total dalam segala hal dari kita yang dulu. Tetapi ada bagian-bagian dari kita yang Tuhan kikis untuk dijadikan indah sesuai dengan rencanaNYA. Aku dulu orangnya juga cenderung susah untuk mengampuni. Akhirnya Tuhan ijinkan aku melewati suatu masalah. Mamaku yang sangat aku percaya dan sayangi mengecewakanku. Awalnya aku kecewa dan sakit hati banget. Kemudian Tuhan ingatkan aku bahwa hubungan orang tua dan anak tidak akan bisa diputuskan. Istri bisa menjadi mantan istri, suami bisa menjadi mantan suami. Tapi anak tidak akan bisa menjadi mantan anak. Mau tidak mau akhirnya aku harus mengampuni. Ketika aku coba mengeraskan hati, hasilnya aku sangat tersiksa. Hati serasa dipenuhi dendam. Singkatnya setelah aku melewati proses yang "tidak enak" tadi, aku memutuskan untuk mengampuni. Aku melewati proses ini cukup lama, sekitar beberapa bulan lah. Kemudian aku bisa merasakan damai sejahtera, kelegaan, dan aku merasakan bahwa Tuhan amat sangat mengasihiku. Hubunganku dengan mamaku juga dipulihkan.

Mungkin teman-teman juga pernah mengalami hal yang menyakitkan. Tapi percaya deh, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Hati sekeras apapun juga bisa diubahkan. Setiap hal yang DIA ijinkan terjadi pasti tidak melebihi kekuatan kita. Percaya bahwa segala perkara dapat kita tanggung di dalam DIA yang memberi kekuatan.

Pergumulanku, Pergumulanmu, Pergumulan kita

February 19th, 2007 by fellowshiparea

Adakah manusia yang tidak pernah bergumul? Aku rasa tidak ada. Semua orang pasti pernah bergumul. Akhir-akhir ini aku sering ngobrol atau sharing dengan teman-temanku seputar pergumulan hidup sehari-hari. Ini sharing lho, bukan nge-gosip. Setelah kita share, ternyata yang menjadi pergumulan anak-anak muda seperti kita ini kurang lebih sama. Aku ketemu sama orang yang bergumul tentang studi, ada juga yang bergumul tentang pasangan hidup (PH), terus ada yang bergumul tentang hubungan relasinya dengan keluarga atau teman yang lagi goncang. Teman-temanku yang sudah luluspun bergumul tentang pekerjaan. Pokoknya masih banyak lagi lah. Inilah gunanya sharing, di mana kita bisa menguatkan satu sama lain. Kita juga nggak merasa sendirian karena kita punya teman-teman yang berjuang dengan tujuan yang sama.

Aku pernah merasa sendiri, kok kayaknya cuma aku yang bergumul tentang ini, tentang itu. Tapi setelah aku share sama teman, ternyata dia juga bergumul tentang hal yang sama. Aku jadi semangat lagi karena punya ” teman seperjuangan ”. Ini penting lho, karena kita sebenarnya sangat butuh tempat untuk berbagi. Meskipun belum tentu dapat solusi, tapi setidaknya kita jadi lega karena sudah menceritakan isi hati dan pergumulan kita.

Aku juga sering bertanya-tanya, kenapa Tuhan ijinkan pergumulan, masalah, pencobaan ini terjadi atas hidupku. Mungkin kita merasa sudah nggak kuat menanggung semuanya karena permasalahan ini kita nilai terlalu berat. Kenapa sih ini mesti terjadi? Ini nih rahasianya, karena Tuhan mengenal kita lebih dari siapapun, bahkan lebih dari kita mengenal diri kita sendiri. Dia tahu sejauh mana kita mampu. Percaya deh bahwa setiap hal yang terjadi tidak akan melampaui kekuatan kita. Kenapa Tuhan ijinkan pencobaan yang begitu dahsyat terjadi pada Ayub? Karena Tuhan mengenal siapa Ayub. Tuhan tahu Ayub pasti mampu, dan buktinya Ayub memang mampu.

Kembali ke masalah sharing tadi, aku bersyukur bisa ngobrol, sharing, dan bertukar pikiran dengan temanku. Tuhan sering kasih jawaban atas setiap pergumulanku lewat teman-temanku. Tuhan juga banyak buka pikiranku melalui sharing-sharing tersebut.

Kita pasti punya teman baik, kenapa nggak coba aja ngobrol banyak hal sama mereka? Asal jangan ngomongin kejelekan orang aja. He…he…he…

So pergumulanku, pergumulanmu adalah pergumulan kita semua.

Aku Mau Percaya!

February 16th, 2007 by fellowshiparea

Nggak terasa aku udah semester delapan. Itu artinya aku harus mikirin skripsi. Seperti temen-temenku yang lain, aku sudah dapat judul TA dan siap untuk diajukan. Setelah beberapa lama konsultasi dengan pembimbingku, judul itupun aku masukin. Tanggal 15 Februari kemarin diumumkan bahwa judulku diterima. Puji Tuhan… Satu step sudah aku tapaki. Dengan diterimanya judulku berarti aku harus lebih serius lagi mengerjakan TA-ku. Jujur, selama ini aku terkesan santai karena aku berpikir masih banyak waktu. Aku cenderung malas untuk mempelajari referensi-referensi yang berkaitan dengan TA-ku. Sampai suatu waktu aku konsultasi lagi dengan pembimbingku. Dari konsultasi terakhir ini, aku sadar ternyata aku belum siap. Aku "dibantai" oleh pembimbingku, pertanyaan2ku tidak langsung dijawab tetapi diputar-putar dulu sehingga aku bingung dan pusing sendiri. Dari sini aku mulai mempersiapkan diri lebih lagi. Sedikit2 bahan mulai aku kumpulkan dan aku pelajari.

Dari kejadian ini aku sebenarnya takut kalau-kalau TA-ku kacau karena ke-tidaksiapan-ku. Ada banyak kekhawatiran yang menghantuiku. Tuhan benar-benar mengingatkanku untuk lebih serius lagi. Mengenai kekhawatiranku, aku mau belajar lebih percaya lagi bahwa Tuhan selalu bersamaku. Aku percaya Tuhan rancangkan hal yang indah bagi masa depanku (Yer29:11). Seringkali kekhawatiran kita membuat kita buta dan tidak melihat bahwa DIA selalu menyertai kita. Ketika ada masalah datang, kita seringkali berkata " God, I have a big problem ". Padahal Allah kita lebih besar dari masalah-masalah kita. Seharusnya kita berkata " Hei problem, I have big God. Not only big, but ALMIGHTY GOD ". Kita cenderung memandang masalah2 kita daripada memandang kepada Allah. Tapi memang nggak semudah itu. Itu perlu proses. Perlu pengenalan yang lebih lagi akan DIA. Semua kita berproses, tapi pertumbuhan tiap kita tentu berbeda. Tergantung seberapa dalam keintiman kita denganNYA. Mari percaya kepada DIA yang selalu merancangkan yang baik dalam hidup kita. Percaya kepada DIA dengan segenap hati dan jangan bersandar pada pengertian kita sendiri. Sambil nulis ini aku ingat lagunya Hillsong yang berjudul With All I Am. Lagunya sungguh menguatkanku.

Jesus I believe in YOU…

Jesus I belong to YOU…

You’re the reason that I live…

The reason that I sing…

With all I am…

Keep it in your heart guys..!